SEJARAH EJAAN BAHASA INDONESIA
Ejaan adalah kata turunan dari eja yang ditambahkan imbuhan-an. Maksudnya, ejaan adalah bagaimana kita mengucapkan (secara lisan) sebuah kata. Ejaan sendiri diatur dalam kaidah berbahasa baku, termasuk di dalam bahasa Indonesia. Jadi, ejaan tidak hanya diatur dari segi cara pengucapan tapi juga cara menulis dan penggunaan tanda baca.
Sebelum mempunyai tata bahasa yang baku dan resmi masih menggunakan aksara latin, bahasa melayu (sebagai cikal-bakal Bahasa Indonesia) ditulis menggunakan aksara jawi (arab gundul) selama beratus-ratus tahun lamanya. Lalu sejak bangsa Eropa datang ke Nusantara, barulah kita mengenal aksara latin. Ejaan latin yang dipakai untuk bahasa melayu pun sudah berkali-kali sesuai dengan kebijakan para penulis buku pada saat itu. Ternyata Nusantara yang diduduki Belanda dengan semenanjung melaya yang notabennya kolonisasi Inggris. Hal ini pasti membingungkan, karena bahasa yang sama tetapi kaidah ejaannya berbeda. Kemudian, ditambah dengan aksara Jawi yang asing di mata bangsa Eropa. Untuk mengatasi hal tersebut tahun 1897, seorang linguis Londo (sebutan orang Belanda) kelahiran Batavia, yang bernama A.A Fokter mengusulkan agar ada penyeragaman ejaan di antara dua wilayah ini. Hingga akhirnya, Van Ophuijsen (sistem orthografi) pembakuan segalanya tentang bahasa melayu.
Perjalanan ejaan dalam bahasa Indonesia sejak bahasa Melayu dibakukan. Pertama, ejaan yang berlaku di Indonesia adalah Ophuijsen (Ophuysen) hingga akhirnya Indonesia tidak lagi dibayang-bayangi Belanda pada tahun 1947. Terdapat tiga ejaan yang kurang efektif yang menjadi tahapan hingga ejaan yang disempurnakan (EYD) yaitu, ejaan Pembaharuan (1957), ejaan Melindo (1959) dan ejaan Baru (1966). Setelah melalui masa-masa sulit perencanaan bahasa di era Soekarno, masalah-masalah ini dapat dipecahkan hingga akhirnya Soeharto meresmikan EYD pada perayaan Indonesia tahun 1972.
Berikut penjelasanya masing-masing:
1.Ejaan Van Ophuijsen (Ch. A. Van Ophuijsen) merupakan tokoh penting dalam bahasa Indonesia. Ejaan Ophuijsen lahir dari niat pemerintah kolonial Belanda untuk menengahi keberagaman variasi bahasa Melayu yang ada di Nusantara saat itu, sekaligus memudahkan kekuasaan di daerah kolonisasinya. Faktor pemicu hadirnya ejaan Van Ophuijsen adalah bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal BI ditulis menggunakan huruf jawi (Arab Melayu). Meskipun bahasa ini tetap hidup di masyarakat. para sarjana Belanda menilai bahasa Melayu tidak cocok menggunakan huruf Arab karena penulisan huruf vokal seperti e, i, o ditulis sama saja saat ingin menuliskan kata yang memiliki vokal a dan u. Salah satu penyebabnya, dikarenakan adanya ancaman militansi umat islam bagi kolonial Belanda membuat Belanda merasa masih perlu mengurangi pengaruh Islam-Arab di Nusantara. Kemudian, faktor lain penetapan ejaan baku ini diresmikan Belanda karena pada saat itu pemerintah kolonial sedang menjalankan politik etisnya di Nusantara , yaitu sebuah kebijakan untuk membuka peluang pendidikan bagi kaum ningrat Nusantara. Jika bahasa Melayu ini tidak distandartkan,proses pendidikan ini akan terhambat.
Sebagai inspektur pendidikan ulayat (kaum bumiputera, saat itu), Van Ophuijsen telah membuat kitab logat Melayu: woordenlijst voor de spelling der malaicsh taal met latijnch karakter (perbendaharaan kosakata: daftar kata untuk ejaan bahasa melayu dalam huruf latin) yang diterbitkan di Batavia 1901 dan berisi 10.130 kata-kata Melayu dalam ejaan baru, dengan prinsip ejaan bahasa Belanda. Kitab ini merupakan salah satu upaya Belanda dalam membuat standar bahasa saat mereka berada di Nusantara. Hal ini dilakukan untuk berbasis kolonial yang bertujuan untuk bisa mwluaskan kekuasaan mereka sekaligus dapat menyatukan Nusantara di bawah kendalinya. Oleh karena itu, bahasa Melayu Ophuijsen ini sering disebut “bahasa Melayu sekolahan”. Tidak berhenti di situ, sejak penerbit Balai Poestaka (sekarang: Balai Pustaka) didirikan Belanda, bahasa ini semakin menancap di kaum terdidik Nusantara. artinya Belanda melalui pemerintah kolonialnya berhasil melakukan politik bahasa dengan menjadikan bahasa (Melayu) Indonesia sebagai standar bahasa kita, yang bahkan masih berlaku hingga saat ini.Dalam merumuskan buku tersebut (1896), van Ophuijsen dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Pedoman tata bahasa ini selanjutnya dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen dan diakui pemerintah kolonial tahun 1901.
Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:
Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, saja, wajang. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata doeloe, akoe, Soekarni, repoeblik (perhatikan gambar prangko di atas). Tanda diakritis, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, jum’at, ta’(dieja tak), pa’, (dieja pak). Huruf tj yang dieja c saat ejaan ini dihapuskan, seperti Tjikini, tjara, pertjaya. Huruf ch yang dieja kh, seperti chusus, achir, machloe’.
Contoh ejaan van Ophuijsen yaitu seperti berikut: “Saja selaloe minoem soesoe. Rasanja enak dan menjehatkan. Ternyata, jauh sebelum menerbitkan Kitab Logat Bahasa Melayu, lelaki yang lahir tahun 1856 dan meninggal tahun 1917 ini sudah membuat dua buku bahasa lain: Kijkjes in Het Huiselijk Leven Volkdicht (Pengamatan Selintas Kehidupan Kekeluargaan Suku Batak) tahun 1879 dan Maleische Spraakkunst (Tata Bahasa Melayu) tahun 1910.
Buku Tata Bahasa Melayu inilah yang akhirnya menjadi pedoman dalam berbahasa Melayu di Indonesia setelah diterjemahkan oleh T.W. Kamil dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kecakapannya di bidang bahasa membuat pemerintah kolonial menugaskannya untuk merumuskan tata bahasa Melayu baku. Maka mulailah Ophuysen berjalan menyusuri Sumatera hingga Semenanjung Malaya untuk meneliti bentuk murni dari bahasa Melayu hingga terpilihlah bahasa Melayu Riau sebagai patokan standardisasi.
2. Ejaan Republik ( ejaan Soewandi 1947-1972)
Ejaan ini disebut sebagai Ejaan Soewandi karena diresmikan tanggal 17 Maret 1947 oleh Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan saat itu, yaitu Raden Soeawandi, menggantikan ejaan Ophuijsen. Bisa dibilang, ejaan bahasa Indonesia yang pertama kali digunakan setelah kemerdekaan adalah ejaan Soewandi. Sebenarnya, nama resmi dari ejaan tempo dulu yang satu ini adalah ejaan Republik, namun lebih dikenal dengan ejaan Soewandi.Faktor Pemicu Hadirnya Ejaan Soewandi Menteri yang sebenarnya ahli hukum dan merupakan notaris pertama bumiputera ini punya alasan mencanangkan ejaan ini. Faktor kebangsaan Indonesia yang sudah merdeka dan ingin mengikis citra Belanda yang diwakili oleh ejaan Ophuijsen membuat pentingnya adanya perubahan ejaan di bahasa kita. Apalagi, saat itu Londo sedang sirik-siriknya melihat pencapaian kemerdekaan mantan negara jajahannya ini hingga datang lagi ke Indonesia dengan memboncengi sekutu (tahun 1947). Semakin jelek deh impresi Belanda yang terwakilkan dalam ejaan Ophuijsen.Berikut ciri-ciri ejaan Soewandi: Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata dulu, aku, Sukarni, republik (perhatikan gambar prangko di atas), dsb. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, pada kata-kata makmur, tak, pak, atau hamzahnya dihilangkan menjadi kira-kira, apa elo masih menulis jum’at alih-alih jumat? Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada mobil2, ber-jalan2, ke-barat2-an. Jadi terjawab deh kenapa sampai saat ini kita masih sering menuliskan angka 2 sebagai perwakilan kata ulang. Tapi sayang, kalau konteks bahasa baku, hal ini sudah kadaluarsa. Awalan di– dan kata depan di keduanya ditulis serangkai dengan kata yang menyertainya. Alhasil, penulisan disekolah atau dijalan disamakan dengan dijual atau diminum. Nah, penulisan di- sebagai awalan dan kata depan selalu menjadi momok dalam tutur lisan maupun tulisan. Saat mestinya digabung, dijalankan menjadi di jalankan. Sebaliknya, di mana menjadi dimana. Penghapusan tanda diakritis atau pembeda antara huruf vokal tengah / yang disebut schwa oleh para linguis atau e ‘pepet’ disamakan dengan e ‘taling’. Gue pribadi agak keberatan dengan penghapusan ini. Akibatnya, karena dialek bahasa Indonesia kita sangat beragam dan dipengaruhi bahasa daerah masing-masing, jadi mestinya kita bisa maklum jika ada orang Ambon/Papua yang kesulitan mengeja Tebet (konsensusnya Tbt) tetapi malah dieja Tebet (seperti mengeja bebek). Atau misalnya, komputer yang bagi orang Batak dieja sebagai komputer (seperti mengeja e pada kemah) alih-alih komputer (seperti mengeja e pada terbang). Namun begitu, ada juga pendapat bahwa hal ini baik karena menuliskan tanda diakritis tidaklah praktis.
3. Pembaruan Ejaan (1957)
Ejaan ini bermula dari kontroversi yang terjadi pada Kongres Bahasa Indonesia ke-2 di Medan tahun 195. Kongres kedua ini akhirnya berlangsung setelah yang pertama berlangsung pada tahun 1938 di Solo. Yami selaku Menteri Pendidikan, Pendidikan, dan Kebudayaan sekaligus penggagas Kongres II Bahasa Indonesia mengatakan, kongres ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi bahasa Indonesia saat itu yang belum berkembang. Medan dipilih karena bahasa Indonesia digunakan dan dilestarikan di kota itu baik dalam rumah tangga maupun dalam masyarakat, setidaknya karena Yamin. Banyak hal yang diusulkan dalam Kongres ini, salah satunya adalah mengubah ejaan. Usulan ini diikuti oleh pemerintah saat itu membentuk komisi untuk mereformasi ejaan bahasa Indonesia.
Fungsi pemutakhiran ejaan
Panitia ini diharapkan mampu membakukan satu fonem dengan satu huruf (misalnya sing: lasu veni meañi; atau cedu: donu meɳa). Penyederhanaan ini sesuai dengan ortografi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, diputuskan untuk memperkenalkan kembali subjek diakritik. Akibatnya, k-e vehicle dengan é (saat Anda menulis k-e-alia), yang dieja sama dengan k-e-mah, dieja berbeda. Kata kondisi (kondisi) dibagi menjadi arat. Jika Anda tidak hati-hati, Anda dapat dengan mudah mengacaukan beban (penuh/bermuatan) dengan kondisi. Meskipun huruf j yang digunakan dalam kata Jang (yang) malah diubah menjadi yang (seperti yang kita gunakan sekarang). Kata mengapa dieja meɳapa. Kata-kata dengan diftong ai, au, dan oi, seperti sungai, kerbau, dan koboi, dieja jocko, buffalo, dan koboi. Pembaruan ejaan ini dilakukan untuk mengoreksi ejaan Soewand dan disebut juga dengan ejaan Prijono-Katoppo. Meskipun resolusi kongres menyatakan bahwa ejaan harus diatur oleh undang-undang, ejaan ini tidak dibuat resmi. Namun, ejaan itu dikatakan telah mendorong pengenalan EyD pada tahun 1972.
4. Ejaan Melindo (Melayu Indonesia) 1961-1967
Sejak Kongres Bahasa di Medan tahun 195, yang dihadiri oleh delegasi Malaysia, ada keinginan antara dua penutur bahasa Melayu untuk menyelaraskan ejaan. Keinginan itu telah diperkuat sejak Malaysia pada tahun 1957. kemerdekaan dan kami menandatangani kesepakatan untuk membahas ejaan seragam tahun 1959. Sayangnya, karena situasi politik kita yang memanas (Indonesia condong ke poros Moskow-Beijing-Pyongyang, sedangkan Malaysia sangat Inggris) , diskusi akhirnya ditunda. Hal lain yang membuat ejaan ini kurang seksi adalah perubahan huruf yang aneh. Misalnya, kata "sweep" akan dieja "wipe"; "syair" dieja "Щyair"; "kopi" menjadi "ɳopi"; atau "koboi" dieja "koboi". Mungkin aneh karena belum terbiasa dan harus menyesuaikan. Namun pada akhirnya, proposal yang mustahil ini dengan cepat ditolak.
5. Ejaan atau Ejaan Baru LBK (1967-1972)
Sebelum adanya EYD, Lembaga Bahasa dan Sastra (sekarang Kielikeskus) menerbitkan Ejaan Baru (Ejaan LBK) pada tahun 1967. Ejaan ini sebenarnya merupakan estafet dari upaya yang diprakarsai oleh Komite Ortografi Melindo. Komite Ejaan Malaysia juga sebagai pelaksana. Pada dasarnya, hampir tidak ada perbedaan yang signifikan dalam ejaan LBK dan EYD, kecuali detail aturannya.
6. Penyempurnaan Ejaan Bahasa Indonesia (EYD) 1972-2015
Presiden Soeharto membuka ejaan ini pada 16 Agustus 1972. Sejak itu, ejaan kami mengalami perubahan yang signifikan. Perjalanan menuju EyD relatif panjang. Sejak Soekarno masih menjadi presiden (195), perubahan itu terjadi melalui Pembaruan Ejaan (1957), disusul dengan Ejaan Melindo (1959), yang akhirnya dibatalkan ketika Soekarno menyerukan penghancuran Malaysia. Kesenjangan ini berhenti lagi karena kudeta 30 September 1965. Situasi ekonomi kita buruk, politik dan keamanan kita buruk. Tentu Anda mengerti bahwa masalah bahasa dihentikan terlebih dahulu. Sejak Mei 1966, masalah ejaan dibuka kembali dan pejuang bahasa Indonesia Anton Moeliono menjadi ketua komisi. Meskipun ejaan ini disempurnakan setahun kemudian dan dinegosiasikan dengan Malaysia (karena kami setuju untuk membakukan ejaan sejak tahun 1959), ejaan ini tidak diperkenalkan kembali. Ejaan ini telah dikritik karena alasan politik daripada linguistik. Namun ejaan ini baru bisa muncul setelah adanya SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1972. Di negara tetangga, nama ini bukan EYD, melainkan ERB (New Roman Orthography of Malaysia). Update Spelling (EYD) Features
Jadi, kalau biasanya Djajalah Indonesia!, maka menurut EYD menjadi Jayalah Indonesia!. Perubahan ejaan dari dj ke j tidak bisa dihindari. Sementara teks deklarasi 195 masih berbunyi "Jakarta, tanggal 17 ...", diubah menjadi teks "Jakarta, tanggal 17 ...". Beberapa orang terus mengeja namanya ketika mengandung ejaan dj. Misalnya, Djojobojo bukan Joyoboyo; Selain itu, ejaan nj diubah menjadi ny, dan ejaan njonja menjadi nyonya; Ini juga berlaku untuk ejaan ch dan korespondensi dengan kh. Jika itu adalah akhir, sekarang adalah akhir.
7. Ejaan Bahasa Indonesia (2015-Sekarang)
Pemerintah terus berupaya meningkatkan ortografi Indonesia melalui Badan Pembinaan Bahasa Indonesia. Pemerintah percaya bahwa ejaan adalah bagian penting dari penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Ejaan bahasa Indonesia ini dibuka pada tahun 2015 pada masa pemerintahan Joko Widodo dan Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Pertanyaan
1. Apa keuntungan belajar mengeja?
2. Apakah motif Anda mengetahui sejarah ejaan?
3. Apa keuntungan mempelajari sejarah ejaan?
4. Seberapa penting materi ini bagi Anda dan mengapa?
Jawaban
1. Karena dengan belajar mengeja, kita dapat meningkatkan standarisasi tata bahasa yang kita gunakan setiap hari.
2. Motivasi saya mempelajari sejarah ejaan adalah karena saya ingin tahu lebih banyak tentang ejaan bahasa asalnya.
3. Karena dengan mempelajari cara menulis ini, kita dapat memperbaiki tatanan bahasa sehari-hari, sekaligus melestarikan dan menumbuhkan bahasa sehari-hari selama masih ada di Indonesia.
4. Menurut saya, mempelajari ejaan bahasa ini cukup penting karena tujuan dari ejaan bahasa Indonesia adalah untuk menekankan atau menyejajarkan bahasa yang digunakan. Sistem ejaan juga penting untuk mengatur penggunaan dan kaidah bahasa Indonesia.
